Kisah 12:7 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Ini adalah bacaan kedua dalam minggu ini tentang seorang Malaikat Tuhan yang membangunkan hambaNya nabi/rasul yang sedang dalam situasi derita karena Injil, dalam kondisi kritis ancaman hukuman mati dari penguasa dunia ini.
Hari Rabu kemarin, kisah Malaikat Tuhan menepuk bahu dan membangunkan Nabi Elia yang dalam pelarian karena ancaman pembunuhan oleh Izebel, istri raja Ahab.
Ada kemiripan dalam kisah-kisah ini. Ada istana berisi orang yang niat dan suka membunuh lawannya, ada Izebel dan Herodes, dan mereka melancarkan tindakan jahatnya itu. Ada nabi dan rasul, Elia dan Petrus, keduanya hamba Tuhan yang sangat setia dan dihormati menjadi pemberita Firman Allah. Ada antek-antek dari kekuasaan jahat yang dipakai memburu, memenjarakan nabi dan rasul itu dan kemudian membunuh mereka. Lalu ada situasi ketika dalam pengejaran atau penahanan, nabi dan rasul kecapean dan tertidur dengan nasib tak menentu. Tetapi kemudian ada seorang Malaikat Tuhan dengan lembut menepuk bahu mereka, menawarkan jalan keluar yang sederhana, tetapi paling utama. Makanan dan minuman, dan pembebasan. Dan kesamaan terakhir adalah, selamatnya nabi dan rasul itu oleh tindakan Tuhan, agar mereka kemudian melanjutkan karya tugas menurut perintah Tuhan Allah.
***
Selama kita ada dalam misi Kerajaan Allah, misi yang diikuti dengan ketaatan, kesetiaan, maka Tuhan dengan lembut memberikan gambaran nyata bagi mata kita, betapa ada seorang Malaikat Tuhan, ketika saat yang setepat-tepatnya, yaitu ketika kejahatan dunia ini melawan Berita Injil yang maha indah itu telah sampai pada puncak jahatnya yaitu hendak membunuh, menghilangkan nyawa anak-anak Tuhan, maka Tuhan tidak akan membiarkan hal-hal jahat itu terjadi.
Dikisahkan saudara-saudara yang lain sedang berkumpul dan berdoa di rumah ibunda Markus Yohanes [catatan: Markus Yohanes adalah murid Rasul Petrus, dan penulis Injil Markus]. Apakah karena kesungguhan saudara-saudari ini berdoa maka Tuhan mengindahkan lalu Petrus dibebaskan? Bagaimana jika mereka tidak berdoa, apakah Petrus akan dibunuh seperti Yakobus sebelumnya? Tidak demikian.
Dalam kisah Nabi Elia, tidak disebutkan ada orang yang mendoakannya, dan Malaikat Tuhan datang kepada nabi Elia.
Doa murid-murid Tuhan justru menjadi satu kaitan dengan iman, percaya kepada Tuhan Allah bahwa dalam misi Kerajaan Allah, anak-anak Tuhan pasti ada dalam pemeliharaan Tuhan Allah. Tuhan Yesus pasti mengirim pertolongan kepada hamba-hambaNya dalam pemberitaan Injil. Saudara-saudari yang berdoa itu tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan akan menolong Petrus. Tetapi mereka YAKIN, TAHU bahwa Tuhan akan menolong Petrus. Itulah sebabnya mereka berdoa.
Sehingga doa tidak dilihat sebagai penyebab TUHAN bertindak, karena kita yakin TUHAN bertindak menurut hikmat dan kehendakNYA yang Maha Ajaib, yang tidak dapat dipandang sebagai nanti dipicu oleh permintaan doa. Tetapi doa dipandang sebagai kepercayaan dan penantian TUHAN akan bertindak. Sehingga jawaban doa yang dilihat pertama oleh wanita pembantu bernama Rode [catatan: tidak ada pembantu wanita paling berbahagia diseluruh dunia sepanjang masa selain Rode, karena namanya tercatat dalam Kitab Kudus, dan namanya akan terus kekal disebut karena ia begitu gembiranya sampai tidak membukakan pintu bagi Petrus] bukan merupakan sebuah peristiwa terpisah dari iman percaya. Jawaban doa menjadi sebuah paket, yaitu paket bahwa TUHAN itu Allah Yang Hidup, telah mengirimkan pertolonganNya, dan telah kita lihat nyata.
Dengan doa, tercipta jembatan antara TUHAN yang Maha Kudus Pemelihara, dengan pertolongan nyataNya dalam kehidupan anak-anakNya. TUHAN akan selalu berkarya dalam kehidupan anak-anakNya. Tetapi apabila anak-anakNya tidak berdoa, maka mereka akan kehilangan gambaran indah akan tindakan-tindakan TUHAN itu. Sebaliknya apabila mereka berdoa, maka gambaran dari tindakan Tuhan itu akan semakin lengkap.
Jadi disini, doa menjadi semacam harapan dari kuas-kuas dan tinta di tangan seorang pelukis hebat, yang mengharap dirinya kuas dan tinta ini akan menggambar suatu bagian dari lukisan yang indah. Ketika goresan-goresan kuas tinta mulai mengalir dari ide pemikiran Sang Pelukis dan membentuk menjadi bagian lukisan yang berakhir pada lukisan yang sangat indah, maka demikianlah harapan dari kuas dan tinta itu terwujud. Entah kuas dan tinta berharap atau tidak, Pelukis tetap akan melukis. Tetapi sejatinya kuas dan tinta memang alat Sang Pelukis Agung bukan? Jadi patut berharap menggores suatu garutan yang merupakan bagian keindahan lukisan.
***
Betapa Lukisan mengenai Elia yang diberi roti bakar dan sekendi air minum, dan Petrus yang dibebaskan secara ajaib dari penjara, dan saudara-saudari yang tekun berdoa, itu sendiri sudah sebuah lukisan yang sangat-sangat indah yang tak mungkin kita lupakan.
Saudara-saudariku memiliki lukisan yang indah bukan? So pasti .......
Karya cinta kasih Tuhan yang tak terkira baiknya, melukis kehidupan tatkala kita taat kepada kehendakNya yang mulia. Amin.
0 Comments