Shalom!

Selamat datang para pembaca diblog resmi GMIST Jemat Depok

Postingan Terbaru

6/recent/ticker-posts

Berhenti di tengah jalan? Tidak, kamu harus makan dan minum agar kuat lanjut ke Gunung Tuhan

I Raja-raja 19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu."

Nabi Elia adalah nabi Allah yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada kehendak Allah, dan perbuatannya tanpa ragu berdasarkan pada kecintaan itu. Ketika nyawanya terancam karena tindakan dramatisnya membunuh nabi-nabi Baal memicu balas dendam dari istana raja, nabi Elia berada dalam pelarian.

Dari keluhan yang diucapkan kepada Tuhan, Elia mestinya menderita dalam pelarian itu. Jika membaca sepintas perikop 1 Raja-raja 19:1-7, ada kesan ini pelarian sehari ke Betsyeba, lalu sehari ke Padang Gurun, lalu terjadi insiden ini. Kita tahu Elia adalah nabi yang tangguh, penuh percaya kepada Tuhan. Lalu mengapa ia berkata "Cukuplah itu ..."  (19:4). Nggak mungkin orang tangguh seperti Elia, baru lari 2 hari saja sudah mengeluh kepada Tuhan berkata "Cukuplah itu Tuhan ...".  Jadi saya menduga Elia menderita selama dalam pelarian dan persembunyiannya yang waktunya tidak diceritakan berapa lama, sehingga ia mengeluh di hadapan Tuhan. 

Yang menarik bukanlah bagaimana nabi Elia menderita, tetapi bagaimana Tuhan mengirim seorang malaikatNya dan membawa roti bakar dan sekendi air minum dan menaruhnya di dekat Elia yang ketiduran lelah. Bukan hanya itu saja, malaikat itu juga menepuk bahunya dan menyuruhnya makan, tidak sekali tetapi dua kali.

***

Orang Kristen dalam menjalani hidup boleh dikata sama dengan nabi Elia. Kita semua adalah orang-orang percaya yang berada dalam kondisi musafir, dalam pengembaraan, dalam perjalanan. Dan kita semua telah membunuh Baal-baal dalam kehidupan. Ketika kita menyangkal diri dan memanggul salib, sesungguhnya kita telah membunuh dosa, membunuh keinginan duniawi yang bertentangan dengan Allah. Kita ada dalam pelarian keluar dari dosa, karena antek-antek dosa dan si jahat telah mengirim pesan untuk membalas.


Rasul Paulus menulis :
Roma 8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Ada waktu seorang Kristen yang setia berkata "Cukuplah itu Tuhan ...". Ada momen kita tergoda untuk meninggalkan medan yang sulit itu, untuk minta mengakhiri perjuangan itu, kita memanggil Tuhan untuk menjemput.

Tetapi Tuhan datang dengan "roti bakar dan sekendi air", menepuk bahu dan berkata "Makan dan minumlah, perjalananmu masih jauh". Lho Tuhan, saya ingin pergi ke rumahMu yang indah, kok saya malah diberi roti dan sekendi air untuk kekuatan melanjutkan perjalanan lagi? Piye Tuhan.

Tetapi perkataan malaikat Tuhan ini mengingatkan satu hal : "Ambillah dan makanlah/minumlah, perbuatlah itu sebagai peringatan akan Aku. Sebab ketika kamu makan roti dan minum air anggur itu, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang".

Apakah hal ini membunyikan lonceng di telinga anda? Iya dong. 

Kekuatan kita ada pada makanan dan minuman yang malaikat Tuhan beri langsung dengan lembut, menyentuh bahu kita dan mendesak kita makan. Karena Roti Hidup dan Air Hidup yang sejati, yaitu Tuhan Yesus, Firman Allah yang hidup itulah makanan yang menguatkan perjalanan manakala kita ingin menyerah, Tuhan kata, tidak, kamu harus makan dan minum. Karena kamu harus terus ke gunung Horeb, gunung Tuhan. Di sanalah akan ada perintah mengenai tugas kamu selanjutnya.

Tuhan Yesus bersabda :
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30)
 JFT 17/2/2015

Post a Comment

0 Comments